Skip to main content

The Law of Christ -- Bible Study Series

Picture is taken from Google image. Subject to copyright.


Janganlah Engkau Gila Hormat

Dalam post kali ini, saya akan melanjutkan pembahasan dari kitab Galatia, khususnya pasal 5:25 sampai ke pasal 6:3. Sejatinya, di dalam naskah teks kuno tidak ada ayat dan pasal. Teks dan pasal baru diberikan jauh beratus- ratus tahun setelahnya untuk memudahkan pembaca Alkitab. Saya ingin kita melihat konteks hukum Kristus dimulai dari pasal 5 untuk mencoba menemukan makna dari sisi yang lain. 
Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki. 
Paulus ingin menekankan bahwa orang yang hidup oleh Roh tidak akan memiliki sifat- sifat gila hormat, menantang, dan saling mendengki. Kata gila hormat di sini menggunakan kata kenodoxo yang berarti  vain glory, sesuatu kekosongan atas status perlunya diakui dan diapresiasi secara berlebihan. Nah, dosa itu membuat kita ingin sekali dipuji dan diakui oleh orang secara berlebihan. Kenodoxo membuat orang berpusat pada diri sendiri!

Akibatnya, dalam setiap hubungan manusia-- orang selalu mencari, "apa yang bisa saya ambil dari hubungan ini?" atau "bagaimana orang ini bisa menguntungkan saya?"

Sesungguhnya itu sudah wujud praktis dari gila hormat!

Siapa yang rohani di sini?

Di dalam Galatia 6:1 tertulis,
Kalaupun seorang kedapatan melakukan pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut...
Sesuai konteks Galatia 5, orang yang rohani di sini adalah orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh dengan ciri- ciri "tidak gila hormat, menantang, dan saling mendengki!"

Dengan kata lain, bisa saja kita membantu orang lain hanya untuk diri kita dipuji. Kelihatannya rohani sekali, tetapi sesungguhnya kita sedang menimbun harta pujian di dunia ini!

 Orang yang tidak rohani bukannya dia petobat baru, bahkan justru petobat lama sering kali lupa kasih yang mula-mula dan menjadi tidak rohani! Coba check hati kita masing- masing, apakah kita hanya mau menolong orang selama kita mendapat pujian? Orang yang gila hormat--alias tidak rohani-- tidak akan mau menolong orang yang jatuh, karena mereka selalu melihat suatu hubungan dari sisi logic of the market: apa yang bisa saya ambil dari dia.
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
Intinya adalah: bagaimana kita bertolong- tolongan menanggung beban sesama tanpa mengharapkan apapun dari dia? Itulah letak perbedaan hukum Kristus dengan hukum dunia ini. Kristus berkata, "apa yang bisa saya berikan bagimu?". Dunia berkata, "apa yang bisa saya ambil darimu?"

 Hukum Kristus: Saling Tolong Tanpa Pamrih

Saya memiliki sebuah analogi: ada sebuah peti yang beratnya mencapai 80kg! Sangat berat untuk satu orang memikulnya. Maka dia panggil temannya untuk datang dan membantu mengangkat, sekarang beban itu terbagi 2 dan ternyata masih cukup berat. Dia panggil 3 orang temannya yang lain dan mereka berempat mengangkat peti yang beratnya 80kg itu dengan mudahnya. Kenapa? Karena sekarang beratnya sudah menjadi 20 kg per orang yang mengangkatnya. Apa yang bisa kita pelajari dari cerita ini?
Anda tidak bisa membantu orang lain tanpa beban kehidupan dia masuk ke hidupmu.
 Karena itu, orang yang gila hormat tidak akan bisa membantu orang lain karena dirinya sendiri tidak mau direpotkan dengan urusan orang itu. Yesus memberikan kita perintah yang baru di dalam Perjanjian Baru seperti di Yohanes 13:34,
supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikianlah kamu harus saling mengasihi.
Bagaimana Yesus mengasihi? Dengan melihat yang terbaik di dalam diri setiap orang. Dengan menolong dan menanggung beban sesama-Nya, bahkan dia menanggung beban dosa seluruh umat manusia! Bahkan Paulus memberikan nasehat di ayat 3 bagi mereka yang merasa diri penting dan tidak mau membantu sesama, mereka "menipu dirinya sendiri", dalam terjemahan lain dipakai kata you are nobody-- bukan siapa- siapa!
Orang yang rohani adalah mereka yang mau menanggung beban sesamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Apakah Berbahasa Roh Secara Korporat Berbenturan Dengan 1 Korintus 14?

Banyak kebingungan terjadi baik di golongan pentakosta maupun non-pentakosta Artikel ini lahir karena banyaknya pertanyaan di kalangan orang pentakosta maupun non-pentakosta tentang penggunaan bahasa roh di dalam lingkup korporat. Kebanyakan argumen dan pertanyaan keluar karena pernyataan Paulus di dalam 1 Korintus 14:23-24, 26-28 yang mengatur tentang penggunaan karunia berbahasa roh di dalam lingkup pertemuan jemaat. Pemahaman jemaat yang kurang mengenai latar belakang masalah di gereja Korintus dan juga pengertian bahasa roh menurut Paulus menambah kebingungan mereka ketika hari- hari ini ditemukan praktek berbahasa roh secara korporat yang umum dijumpai di gereja- gereja pentakosta. Kebingungan inilah yang penulis berusaha tanggapi lewat artikel ini. Tujuan penulisan ini adalah untuk orang awam dengan gaya penulisan teologia, sehingga mungkin terkesan biasa dengan gaya penulisan lisan, tetapi biarlah artikel ini menjadi pembuka terhadap diskusi sehat mengenai penggunaan bah...

Ikat PInggang Kebenaran

Kita memasuki perlengkapan senjata Allah yang telah dianugerahkan secara cuma- cuma kepada kita. Tinggal bagaimana imanmu meresponi ini semua. Salah satu yang paling awal disebut di dalam Efesus 6:14, Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan Kata ikat pinggang kebenaran ini memiliki makna seperti ikat pinggang yang dipakai tentara roma jaman dahulu untuk berperang. Mereka menggunakan sabuk untuk mengikatkan baju, jubah, dan selongsong pedang. Tanpa ikat pinggang ini, pedang tidak bisa menempel ke badan, dan jubah serta baju zirah akan kedodoran. Apa maksud kebenaran di sini? Kebenaran di sini bisa berarti kebenaran firman Tuhan yang ada di Alkitab . Yesus berkata di Yohanes 17:17,  Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. Dunia jaman post-modern memberikan arti kebenaran yang serba relatif: apa yang benar menurutmu belum tentu benar menurut saya. Alkitab tidak seperti itu, apa yang Firman katakan itu adalah s...

Ibadah yang Sejati Vs. Palsu

Dapat kiriman WA tentang gereja palsu... Ketika membuka WA tersebut, penulis beranggapan gereja palsu adalah gereja yang dokrinnya salah, atau dia mungkin sudah tidak bertuhankan Allah tritunggal, atau mungkin mengijinkan praktik dosa dilakukan di gereja tersebut. Tetapi yang lebih difokuskan adalah praktik- praktik lahiriah dari gereja itu, lokasi dimana gereja itu berada, dan juga liturgi dari gereja yang dipermasalahkan. Menurut penulis ini adalah sebuah pengamatan yang dangkal dan patut diduga terkesan tebang pilih. Sayang sekali sebetulnya kalau orang Kristen saling menyerang tubuh Kristus, walaupun penulis menangkap isi hati dari sang admin adalah baik.  Tidak usahlah kita gubris apa itu yang palsu (kalau benar itu palsu...), cukup kita ketahui kuasa dari ibadah yang sejati saja di blog kali ini ya. Haleluya!  Kuasa Dari Sebuah Ibadah Apa yang kita harapkan dari sebuah ibadah yang sejati? Banyak sebetulnya ayat yang mengajarkan tetang ibadah, tetapi dala...